Home | The Embassy | Consular Services | About Indonesia | Culture & Tourism | About Sri Lanka | Contact Us  
Business Council
The Sri Lanka - Indonesia Business Council established on August 30, 1991, with the main objective of promoting trade, investment, services and tourism between Sri Lanka and Indonesia.
Learn More
» Formation of the Council
» Objectives of the Council
» The President
» The Vice President
» Business Council Committee
» Past Presidents
» Invitees
» Business Plan for the year
SLIFA
Learn More
» About the Association
» Office Bearers ( 2010 - 2012 )
» SLIFA Photo Gallery
» NewsLetter Download
» Joining Application Form
Contact Details
Embassy of
The Republic of Indonesia

Address :

400 / 50, Sarana Road,
Colombo 07, Sri Lanka.
(Off Bauddhaloka Mawatha)
Phone : +94 (0)11 2674 337
+94 (0)11 2685 042
Fax : +94 (0)11 2678 668
E-mail : indocol@indonesia-colombo.lk
Sejarah Singkat Sri Lanka

1. Sebutan Sri Lanka

Sepanjang sejarahnya, Sri Lanka dikenal dengan beberapa nama, antara lain orang Yunani dan Romawi menyebutnya TAPOBRANE, pelaut Arab dan pada jaman Sinbad menamakan SERENDIB, orang Portugis memanggilnya CIELLAO, orang Belanda mengatakan CEYLAND, orang Inggris menamakan CEYLAND, sedangkan penduduk pulau ini sendiri menyebutnya LANKA atau LANKADIPA seprti tersebut dalam cerita Ramayana. Kata Sri menunjukkan harapan bagi terwujudnya kemakmuran. Nama SRI LANKA mulai resmi dipakai pada tanggal 22 Mei 1972, ketika negeri ini merobah namanya menjadi Republik Sri Lanka.

2. Jaman Kerajaan

a. Lahirnya suku Sinhala dimulai pada saat kedatangan pangeran Vijaya ke Sri Lanka tahun 543 dari India Utara. Kedatangan pangeran Vijaya bertepatan dengan wafatnya Buddha dan pula perkawinan Vijaya dengan putri setempat dari suku Veddha yang telah mendiami pulau ini. Karena itu, Pangeran Vijaya dianggap sebagai Raja Sinhala yang pertama.

b. Kedatangan Vijaya disusul dengan datangnya kelompok suku Arya dan juga suku Dravida (Tamil) dari India Selatan. Desa-desa yang mereka bangun terus berkembang menjadi kota sehingga terrbentuklah kerajaan-kerajaan Sinhala dan Tamil. Dari sejumlah kerajaan Sinhala, ada tiga kerajaan yang terkenal yaitu ANURADHAPURA abad IV s/d X, POLONARUWA abad X s/d XIII dan KANDY abad XVI s/d XIX. Pada waktu Raja Devanampiyatissa memerintah Anuradhapura (267 SM), di India bertahta Raja Asoka. Tahun 247 SM, Asoka mengutus putranya Pangeran Mahendra untuk menyebarkan ajaran Buddha di Sri Lanka.

Misi Mahendra memperoleh sukses dimana Raja Anuradhapura keluarganya dan para pejabat Kerajaan mulai memeluk agama Buddha. Raja Asoka mengirim adiknya perempuan ke Sri Lanka dengan membawa pohon Boddhi, yaitu pohon dimana Sang Buddha memperoleh ilham bagi ajaran-ajarannya. Pohon tersebut ditanam di Anuradhapura dan sampai sekarang masih tumbuh.

c. Jika diperhatikan, berpindahnmya pusat kerajaan Anuradhapura ke Polonaruwa kemudian ke Kandy menunjukkan adanya penggeseran tempat kea rah selatan, yang disebabkan sebagai berikut :

  1. Anuradhapura dan Polonaruwa sering diserang dan diduduki oleh tentara Indian Selatan, yaitu suku Pandyan dan Chola. Kerajaan yang mereka dirikan di Sri Lanka bagian Utara adalah Kerajaan Tamil. Sejarah ini sampai sekarang menjadi dasar tuntutan suku Tamil Sri Lanka bahwa mereka mempunyai hak untuk mendirikan Negara sendiri (Tamil Eelam) dengan wilayah Propinsi Utara dan Timur Sri Lanka.

  2. Keadaan tanah dibagian Selatan lebih subur dari pada di Anuradhapura dan Polonaruwa. Kandy adalah kerajaan terakhir, karena tidak ada lagi kerajaan yang tumbuh setelah penjajah Eropa mulai menguasai Sri Lanka. Selama 450 tahun masing-masing sekitar 150 tahun, Sri Lanka dijajah Portugis, Belanda dan Inggris, sampai akhirnya merdeka ditahun 1948. Anuradhapura – Polonaruwa – Kandy membentuk satu segi tiga yang penuh dengan warisan budaya dan peradaban Sinhala dan Agama Buddha.

3. Jaman Penjajahan Bangsa Eropa

  1. Penjajah Portugis 1505 – 1656

    Armada Portugis dibawah Kapten Lorenco de Almeida tiba di Galle (selatan) Sri Lanka tahun 1505, karena kehilangan arah sewaktu hendak menuju Maldives. Pada Waktu itu terdapat 3 kerajaan keat yaitu :

    1. Kotte, 5 km di pinggiran Timur Colombo.

    2. Kandy, dataran tinggi di propinsi tengah

    3. Jaffna, di Propinsi Utara.

    Raja kotte minta pertolongan Armada Portugis untuk menghadapi suku bangsa Moor (Islam) yang memonopoli perdagangan rempah-rempah. Karena banyak tergantung pada portugis, banyak wilayahnya yang dikuasai portugis, terutama di daerah-daerah pantai, meskipun usahanya untuk menguasai Kandy selalu gagal

    Portugis adalah yang pertama kali membangun kota Colombo sebagai tangsi militer. Selama 150 tahun Portugis menyebarkan Agama Khatolik, mempertahankan sistem feodalisme, menghimpun peraturan mengenai perpajakan, memperkenalkan seni arsitektur, bahasa, musik dan tari-tarian. Oleh banyak penulis Sri Lanka dan Portugis sendiri, penjajahan Portugis dinilai sangat kejam dan serakah.

  2. Penjajah Belanda 1656 – 1796

    1. Armada perang Belanda yang berkekuatan sekitar 2.000 prajurit dibawah Kapten Wilhelm Jacobs Coster berhasil mengusir Portugis dari Galle setelah berperang selama 4 hari. Belanda kemudian berkerjasama dengan Kerajaan Kandy dimana berdasarkan kesepakatan Belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah sedangkan daerah-daerah pantai yang dikuasai Portugis dikembalikan ke Kerajaan Kandy. Dikemudian hari, Belanda ternyata mengingkari kesepakatan dan menguasai daerah-daerah tersebut kembali. 

    2. Selama menjajah Sri Lanka, Belanda merubah kota Colombo menjadi kota militer, memberlakukan Hukum Romawi Belanda, memodifikasi hokum adapt Tamil yang disebut Thesavalami, memperluas perbentengan di Galle, memperkenalkan Gereja Reformas, mengorganisir tata pengumpulan rempah-rempah, membangun jalan dank anal, memperbaharui sistim tanam padi dll. Kawin campur antara penduduk local dan kaum pendatang Belanda menghasilkan masyarakat yang disebut “Burgher” Banyak juga kata-kata Belanda yang diserap menjadi bahasa Sinhala. 


  3. Penjajahan Inggris 1796 – 1948 

    1. Perkembangan politik di eropa sesudah Revolusi Perancis membuka kesempatan bagi Inggris untuk meluaskan jajahannya di Asia. Inggris sudah berada di India ketika berminat menguasai Ceylon. Tanpa banyak kesulitan pada tahun 1796, Inggris berhasil mengambil alih kekuasaan Belanda. Kerajaan Kandy di kuasai Inggris setelah peperangan selama 25 tahun. Kota Colombo kemudian dijadikan Ibukota dengan wajah baru. Inggris satu-satunya yang mampu menguasai seluruh wilayah Ceylon. Tahun 1818, Inggris memberlakukan sistim pemerintahan terpusat. Kebijaksanaan ini berarti menghapus tata administrasi pemerintahan di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya suku Tamil. 

    2. Berdasarkan komisi Colebrooke dan Cameron tahun 1832, Inggris menghapus perbudakan dan sistim wajib kerja pada kerajaan, memberlakukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi, membuat jalan-jalan raya, membentuk dewan Eksekutif dan Legislatif untuk membantu Gubernur yang anggota-anggotanya dari kelompok Sinhala, Tamil, Burgher dan Muslim. 

    3. Inggris juga membuka perkebunan teh dengan tenaga suku Tamil yang didatangkan dari India Selatan. Jumlah mereka sekitar 1 juta jiwa saat ini dan sebagian telah memperoleh kewarganegaraan Sri Lanka. Munculnya golongan intelektual kelas menengah dan tumbuhnya kesadaran nasionalisme dan hidupnya Budhisme dan Hinduisme menimbulnya banyaknya tuntutan agar orang-orang Ceylon dapat ikut serta dalam pemerintahan.
Tahun 1927 Inggris membentuk komisi Donoughmore yang bertugas meneliti masalah-masalah pemerintahan dan di tahun 1932, menghasilkan rekomendasi pemberian hak pilih kepada pria dan wanita berusia 21 keatas dan menghapuskan perwakilan komunal dan pembentukan Dewan Negara. Ketika perang dunia kedua masih berlangsung, Inggris mengirim misi ke Ceylon diketuai oleh Lord Soulbury.

Rekomendasinya diberi nama Konstitusi Soulbury yang isinya antara lain pembentukan Pemerintahan Parlementer dengan Dewan Perwakilan Rakyat / Majelis Rendah dan Senat serta Dewan Menter. Baru tahun 1947, Ceylon diberi status Dominion dan pada tanggal 4 Pebruari 1948, Ceylon diberi kemerdekaan dan hingga tahun 1972, Ceylon tetap setia kepada Mahkota Inggris disamping sebagai anggota persemakmuran. Pada tahun 1972, Ceylon menyatakan diri sebagai Republik Sri Lanka dan melepaskan ikatannya dari mahkota Inggris, namun tetap dalam lingkungan Persemakmuran